Dari Limbah Jadi Paving: Belajar Bela Negara dari Booth Eco-Pave

Waktu berkunjung ke pameran Program Wirausaha Mahasiswa (PMW), ada satu booth yang membuat saya berhenti cukup lama. Namanya Eco-Pave. Di mejanya tersusun beberapa paving block berbentuk segi enam berwarna gelap, dan di spanduknya tertulis kalimat yang langsung menempel di kepala: "Limbah Hari Ini, Jalan Masa Depan."
Idenya sederhana tapi menarik: membuat paving block dari bahan limbah. Barang yang biasanya dianggap sampah diolah lagi menjadi sesuatu yang bisa dipakai setiap hari, entah untuk halaman rumah, trotoar, atau taman.
Kenapa ide ini menarik
Sampah adalah masalah yang sangat dekat dengan kita. Setiap hari kita menghasilkan sampah, dan sebagian besar tidak pernah kita pikirkan lagi setelah dibuang. Kalau sebagian limbah bisa diolah menjadi bahan bangunan, ada dua hal yang terjawab sekaligus: limbah berkurang, dan ada produk yang berguna bagi banyak orang.
Yang saya suka, tim Eco-Pave tidak berhenti di ide. Mereka sudah membawa contoh produk, menyiapkan brosur, dan berdiri di booth untuk menjelaskan idenya kepada siapa pun yang mampir. Untuk ukuran usaha mahasiswa, keberanian memperkenalkan produk ke publik seperti ini sudah langkah yang besar.
Apa hubungannya dengan bela negara?
Mungkin ada yang bertanya, bisnis paving kok dikaitkan dengan bela negara? Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 menyebut bahwa keikutsertaan warga negara dalam usaha bela negara bisa dilakukan melalui beberapa jalan, salah satunya pengabdian sesuai dengan profesi. Bagi mahasiswa yang memilih jalur wirausaha, membangun usaha yang bermanfaat bagi masyarakat bisa menjadi bentuk pengabdian itu.
Undang-undang yang sama juga menyebut cinta tanah air sebagai nilai dasar bela negara yang pertama. Saya suka membaca frasa ini secara harfiah: tanah dan air. Menjaga tanah dan air dari tumpukan limbah adalah wujud cinta tanah air yang paling nyata. Ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009, Pasal 67, yang menegaskan bahwa setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran dan kerusakan lingkungan. Eco-Pave mencoba menjalankan kewajiban itu lewat bisnis.
Selain itu, wirausaha melatih kemandirian. Menurut saya, negara yang kuat butuh anak muda yang tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga berani menciptakan solusi dan lapangan kerja.
Dukung ide anak muda
Ide seperti Eco-Pave butuh dukungan supaya bisa tumbuh. Dukungannya tidak harus berupa modal besar. Mampir ke booth, bertanya, memberi masukan yang jujur, membagikan informasi produknya, atau membeli produknya ketika sudah tersedia, semuanya ikut membantu.
Pulang dari pameran, saya membawa brosur Eco-Pave dan satu pelajaran: bela negara tidak selalu harus terlihat besar. Kadang ia dimulai dari meja kecil di sebuah pameran, dari anak muda yang melihat tumpukan limbah lalu bertanya, "Ini bisa jadi apa, ya?"