Hubungi kami
Terbaru · Dari Limbah Jadi Paving: Belajar Bela Negara dari Booth Eco-Pave
← Kembali ke beranda
Digital

Cek Dulu, Baru Bagikan: Literasi Digital sebagai Bentuk Bela Negara

Oleh Radith Pribadi Tegar · · 3 menit baca
Poster kampanye Kominfo bertuliskan "Saring Sebelum Sharing" dengan gambar telapak tangan hitam bertuliskan "Stop Hoax" di atas latar hijau toska.
Gambar: Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) / Poster kampanye antihoaks

Hampir semua dari kita pernah menerima pesan berantai di grup WhatsApp keluarga. Polanya mirip: kabar yang bikin panik, sumbernya tidak jelas, lalu ditutup dengan kalimat "sebarkan sebelum dihapus!". Yang mengirim pun biasanya bukan orang asing, melainkan om, tante, atau teman sendiri yang niatnya baik.

Justru di situ masalahnya. Hoaks tidak selalu menyebar karena ada orang yang berniat jahat. Sering kali ia menyebar karena orang ingin menolong, ingin terlihat paling cepat tahu, atau sekadar tidak sempat mengecek. Satu kali menekan tombol "teruskan" terasa sepele, padahal dampaknya bisa ke mana-mana.

Apa hubungannya dengan bela negara?

Mungkin terdengar berlebihan mengaitkan pesan berantai dengan bela negara. Tetapi coba lihat nilai dasar bela negara dalam UU Nomor 23 Tahun 2019. Di sana ada "sadar berbangsa dan bernegara" dan "setia pada Pancasila sebagai ideologi negara". Hoaks yang mengadu domba suku, agama, atau pilihan politik jelas bertabrakan dengan dua nilai itu, karena merusak rasa percaya antarwarga yang membuat masyarakat yang beragam bisa hidup berdampingan.

Undang-undang yang sama juga membagi ancaman menjadi ancaman militer, ancaman nonmiliter, dan ancaman hibrida. Artinya, ancaman terhadap negara tidak selalu datang dalam bentuk senjata. Menurut saya, informasi palsu yang memecah belah masyarakat layak dilihat dengan kacamata yang sama, karena yang diserang adalah persatuan.

Wajah Indonesia di kolom komentar

Selain hoaks, ada hal lain yang sering luput: cara kita bersikap di media sosial. Kita mungkin pernah melihat kolom komentar akun luar negeri diserbu komentar kasar setelah ada pertandingan olahraga atau kontroversi tertentu. Saat itu terjadi, yang dinilai orang lain bukan hanya akun pribadi, tetapi juga citra orang Indonesia secara umum.

Menjaga nama baik bangsa di internet tidak berarti harus selalu memuji Indonesia atau menutupi kritik. Kritik tetap perlu. Bedanya ada pada cara: berargumen dengan data, bukan dengan makian.

Hal yang sama berlaku ketika kita membela Indonesia dari komentar negatif orang luar. Membalas hinaan dengan hinaan tidak membuat bangsa ini terlihat lebih baik. Jawaban yang tenang, sopan, dan berisi fakta justru lebih mungkin mengubah pandangan orang yang membacanya, termasuk mereka yang hanya diam mengamati percakapan.

Kebiasaan kecil yang bisa dimulai

  • Baca sampai habis, bukan hanya judulnya. Judul sering dibuat untuk memancing emosi.
  • Cek sumbernya: siapa yang menerbitkan, kapan, dan siapa yang dikutip.
  • Cari pembanding. Untuk kabar yang sedang ramai, situs pemeriksa fakta seperti turnbackhoax.id yang dikelola Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) dan cekfakta.com bisa membantu.
  • Kalau masih ragu, jangan dibagikan. Diam tidak membuat kita ketinggalan, tetapi ikut menyebarkan hoaks membuat kita ikut bertanggung jawab.

Kebiasaan ini memang membuat kita sedikit lebih lambat dalam membagikan kabar. Tetapi dalam urusan informasi, terlambat beberapa menit jauh lebih baik daripada ikut menyebarkan sesuatu yang keliru kepada ratusan orang.

Untuk konten negatif yang meresahkan, masyarakat juga bisa melapor melalui aduankonten.id, kanal aduan konten milik Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Bagian tersulit: meluruskan

Menurut saya, bagian paling sulit bukan mengecek, melainkan meluruskan, apalagi kalau yang menyebarkan adalah orang tua di grup keluarga. Cara yang lebih mudah diterima biasanya bukan langsung menulis "itu hoaks!", tetapi mengirim tautan klarifikasi dengan bahasa yang sopan, misalnya, "Om, tadi aku cek, ternyata kabar ini sudah diklarifikasi. Ini tautannya, ya."

Sebagai mahasiswa, kita sering merasa bela negara adalah urusan yang jauh. Padahal di ruang digital, kita semua ada di garis depan. Setiap hari kita memutuskan apa yang dibagikan dan apa yang tidak. Keputusan kecil itu, kalau dilakukan oleh banyak orang, ikut menentukan apakah ruang digital kita menjadi tempat yang sehat atau penuh kecurigaan.

Sumber

  1. Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo), “TurnBackHoax.id”
  2. CekFakta.com, “CekFakta.com”
  3. JDIH BPK RI, “Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara”
  4. Bisnis.com, “Komdigi Berantas 1,3 Juta Konten Negatif, Judi Online Terbanyak”